Sejarah Tokoh Filsafat Yunani

Tokoh Filsafat Yunani Kuno & Pemikirannya (Bagian 1)

Yunani merupakan wilayah kelahiran filsuf terkenal dari mulai thales, aristoteles, pytagoras, socrates, plato dan masih banyak lainnya.

Dari yunani lah sejarah ilmu filsafat dilahirkan.

Filsafat yakni kajian tentang fenomena kehidupan dan pemikiran manusia yang kritis seperti eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa.

Pemikiran filsafat lebih mengedepankan sesuatu yang masuk akal dan logis dari pada takhayyul atau sesuatu yang tidak masuk akal. Maka dari itu kebanyakan dari tokoh banyak mengkritik  sesembahan orang yunani seperti dewa dewi, berhala; dan juga mitos-mitos yang beredar pada saat itu.

Mereka juga menyampaikan tentang ketuhanan, alam semesta, dan pengetahuan menurut versi mereka masing-masing berdasarkan akal dan logika.

Disini saya hanya membahas beberapa filsuf dan membaginya dengan beberapa bagian, dan bagian lain akan diterbitkan pada postingan selanjutnya; karena lumayan banyak juga nama-nama filsuf yunani yang sudah saya kumpulkan, dan tidak mungkin menuliskan semuanya disini. Bisa-bisa postingan ini tidak akan pernah terbit haha.

Tokoh Filsafat Yunani

Saya akan memulainya dengan filsuf pertama yang bernama Thales, lalu disambung dengan Anaximandros, Anaximenes, lalu setelah itu Xenophanes.

1. Thales

Thales seorang filsuf yunani prasokrates dari Miletos pada tahun 624-546 SM. Ia dijuluki sebagai Bapak filsafat oleh Aristoteles didalam bukunya karena Thales orang pertama yang memikirkan asal mula terjadinya alam sehingga ia disebut juga sebagai perintis filsafat alam.

Thales tidak memiliki peninggalan karya tulisan atas pemikiran filsafatnya, sehingga orang pada masa itu tidak mengetahui bahwa Thales seorang filsuf. Ia diketahui setelah Aristoteles menyebutkan dalam bukunya bahwa Thales seorang filsuf pertama.

Selain seorang filosof, Thales juga seorang ilmuwan dan ahli matematika.

Berawal dari pemikiran masyarakat yang mempercayai mitos (mitologi), Thales lebih berpikir secara rasional terhadap dunia dan gejala-gejala didalamnya. Ia menggeser kepercayaan tahayyul dan tidak masuk akal dengan pemikiran yang ilmiah (sains).

Pemikiran itu menjadikan ia seorang ahli geometri, astronomi, dan politik; Bahkan dikenal sebagai Tujuh Orang Bijak dari Yunani (Seven Sages of Greece).

Ada tiga pemikiran Thales yang terkenal, diantaranya:

Air sebagai dasar dari segala sesuatu

Thales beranggapan bahwa asal mula dari kehidupan ini berasal dari air.

Pemikirannya bukan anggapan tanpa dasar, ia beragumen bahwa semua makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan bahkan bakteri bahan utamanya berasal dari air dan akan mati jika tanpa air.

Dari argumentasi tersebut bahwa Air merupakan sumber dari segala sesuatu, makanan semuanya mengandung air bahkan bumi dipandang sebagai tanah yang terapung diatas air.

Pandangan tentang Jiwa

Thales memiki kepercayaan Animisme yaitu kepercayaan yang menganggap setiap benda seperti hewan, tumbuhan, gunung, mata air, lautan, gua, pohon dan benda lainnya memiliki jiwa. Thales beranggapan bahwa semua benda yang ada dibumi memiliki jiwa baik itu benda hidup atau pun benda mati. Alasan dari pemikiran ini didasarkan pada sebuah magnet yang bisa menggerakan besi.

Teorema Thales

Teorema Thales

Thales membuat sebuah teorema dalam ilmu Geometri yang menyatakan “Jika AC adalah diameter dan B adalah titik pada lingkaran diameter, maka sudut pada B adalah sudut kanan”; Disebut juga sebagai Teorema Thales.

Teorema Thales bisa dirumuskan menjadi:

teorema thales rumus

Kononnya Thales mempersembahkan seekor sapi kepada dewa untuk ucapan rasa syukur atas penemuannya itu.

2. Anaximander atau Anaximandros

Anaximandros adalah filsuf yunani dari Miletos tahun 610-546 SM. Ia salah satu murid Thales dan filsuf pertama yang mengabadikan tulisannya ke dalam buku.

Anaximandros memiliki keahlian dalam bidang astronomi dan geografi; Salah satu bukti kesuksesannya dalam bidang geografi yakni beliau menjadi orang pertama yang membuat peta bumi.

Selain itu, beliau membuat sebuah jam matahari sederhana untuk menentukan waktu yang disebut gnomon.

Keahlian lainnya beliau mampu memprediksi kapan terjadi gempa.

Sama seperti gurunya, sebagai seorang filsuf, Anaximandros memiliki 3 pemikiran yang terkenal.

To Apeiron sebagai prinsip dasar segala sesuatu

To Apeiron berasal dari bahasa yunani, gabungan dari kata a dan peras yang berarti tanpa batas.

Berbeda dengan gurunya Thales, Anaximandros berpendapat bahwa prinsip dasar segala sesuatu bukanlah air, ia berdalih bahwa air berlawanan dengan api. Yup, kalau berlawanan, bagaimana api bisa berasal dari air.

Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah To Apeiron yang bersifat ilahi, abadi dan meliputi segala sesuatu; Semua berasal dari prinsip ini dan akan kembali kepada prinsip ini juga, itulah yang dimaksud Anaximandros.

Pandangan tentang Alam Semesta

Berawal dari prinsip To Apeiron, lahirlah zat yang berlawanan yaitu panas membalut yang dingin, dan dari yang dingin terjadilah cair dan beku. Zat yang beku tersebut menjadi bumi. Api yang sedang membalut yang dingin kemudian menjadi terpecah, dan pecahan tersebut menciptakan matahari, bulan, dan bintang.

Sama seperti Thales, Anaximandros meyakini bahwa bumi berada diatas lautan, ia menjelaskan bahwa lautan tersebut berasal dari proses udara dingin yang membalut bumi yang sedang berputar, putaran tersebut membuat bumi menjadi kering dan memisahkan udara dingin tersebut dengan bumi; Udara itulah yang menjadi lautan.

Pandangan tentang Makhluk Hidup

Bumi yang berisi air, diliputi oleh panas, sehingga sebagian air tersebut mengering dan dari hal tersebut terciptalah daratan, sedangkan sisanya menjadi lautan. Makhluk yang berada dilautan mulai naik ke daratan untuk berkembang biak.

Anaximandros berpendapat bahwa semua makhluk hidup darat berasal dari ikan termasuk manusia.

Manusia berasal dari ikan yang bisa naik kedarat kemudian melahirkan manusia yang mampu berkembang sendiri. Menurutnya manusia bukan makhluk pertama yang hidup, karena bayi membutuhkan asuhan orang lain pada fase awal perkembangan, maka dibuatlah spekulasi bahwa semua berasal dari ikan.

3. Anaximenes

Anaximenes adalah filsuf yunani dari Miletos tahun 586-526 SM. Sama seperti anaximandros, Anaximenes juga murid thales.

Ia hidup satu zaman dengan Thales dan Anaximandros, hanya saja ia lebih muda dari anaximandros.

Sebagaimana kedua filsuf diatas, ia pun memiliki pemikiran tentang asal mula kehidupan alam.

Sebagian dari pemikiran astronominya didasarkan pada anaximandros, hanya saja ia mengubah pendapat anaximandros tentang prinsip segala sesuatu.

Udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu

Anaximenes tidak bisa mempercayai To Apeiron yang dikemukakan oleh anaximandor sebelumnya karena itu bersifat tidak terlihat (metafisik), ia kesulitan untuk menghubungkan antara yang terlihat (fisik) dan tidak terlihat.

Maka dari itu Anaximenes memilih udara yang bersifat fisik sebagai prinsip dasar dari segala sesuatu dengan beragumen bahwa udara terdapat dari segala hal baik itu tanah, api, air, manusia dan lainnya. Dengan adanya udara, semua benda bisa ada dan tiada karena semua itu dibentuk dari campuran perubahan udara.

Tentang Alam Semesta

Anaximenes berpendapat bahwa alam semesta berasal dari pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk bumi serta partikel lain seperti air, tanah, batu dan sebagainya.

Jika udara mengalami pemadatan maka terciptalah angin, air, tanah dan batu; Bila udara mengalami pengenceran maka yang tercipta adalah api.

Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk datar dan luas seperti meja dan melayang di udara beserta matahari, bulan dan bintang-bintang mengelilingi bumi. Benda langit tersebut merupakan api yang muncul karena pernapasan basah dari bumi. Jika cahaya bintang terlihat kecil, berarti jarak antar bintang dan bumi sangat jauh sehingga bintang tersebut bisa tidak terlihat karena tidak memungkinkan untuk menerima panas dari bumi.

Tentang Jiwa

Dalam diri manusia terdapat jiwa yang mengontrol gerakan tubuh manusia. Menurut Anaximenes bahwa jiwa itu merupakan kumpulan udara dengan beragumen bahwa manusia memerlukan nafas dengan udara untuk tetap hidup.

4. Xenophanes

Xenophanes adalah seorang filsuf yang berasal dari Colophon disemenanjung anatolia sekitar tahun 570 SM. Ia hidup disana selama 25 tahun hingga terusir dari kampung halamannya, karena pada saat itu colophon dijajah oleh persia. Bertahun-tahun ia menjadi pengungsi dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat hingga akhirnya ia tiba di Elea, italia selatan. Selain sebagai filsuf, ia juga terkenal sebagai seorang penyair; pemikiran filsafatnya sering ia sampaikan melalui bait-bait syair.

Sebenarnya ia lebih terkenal sebagai penyair dari pada filsuf. Namun karena pemikiran kritisnya yang disampaikan melalui bait syair, sebutan filsuf melekat pada dirinya.

Xenophanes memiliki seorang murid bernama parmenides, ia juga seorang filsuf, namun pandangannya tidak mengikuti gurunya. Nanti kita akan membahas muridnya di bagian 2.

Dalam pemikiran filsafatnya, Xenophanes banyak mengkritik dewa-dewi yunani kuno, ia tidak mempercayai takhayyul yang dilakukan bangsa yunani kala itu.

Kritikannya ia sampaikan dalam bentuk bait syair seperti puisi.

Tidak ada karya Xenophanes yang tertinggal untuk dipelajari, namun hanya ada fragment atau kutipan yang ditulis oleh filsuf setelahnya, hal itu cukup untuk menjelaskan pemikirannya.

Maka dari itu saya akan menjelaskan pemikirannya melalui fragment berikut.

Pemikiran tentang pengetahuan

The gods have not revealed all things to men from the beginning, but by seeking they find in time what is better. (Fragment 18)

There never was nor will be a man who has certain knowledge about the gods and about all the things I speak of. Even if he should chance to say the complete truth, yet he himself knows not that it is so. But all may have their fancy (fragment 34)

Saya akan menjelaskan fragment diatas.

Pada fragment 18, Xenophanes mengatakan bahwa manusia tidak memperoleh pengetahuan dari tuhannya, namun mereka mengetahui karena mencari tahu sendiri.

Pada fragment 34, Xenophanes mengatakan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar tahu atau membuktikan secara mutlak tentang dewa ataupun pengetahuan lain yang mereka miliki. Kalau pun ada yang mengatakan bahwa ia tahu kebenarannya, orang itu hanyalah mempercayai saja bukan benar-benar membuktikannya.

Pemikiran tentang Ketuhanan

Xenophanes mengkritik dewa dewi sesembahan orang yunani kuno karena konsep mereka tentang tuhan itu salah; mereka selalu menyamakan sifat tuhan dengan sifat manusia, maka beliau pun mengkritiknya melalui fragment berikut.

But mortals deem that the gods are begotten as they are, and have clothes like theirs, and voice and form.  (Fragment 14)

Yes, and if oxen and horses or lions had hands, and could paint with their hands, and produce works of art as men do, horses would paint the forms of the gods like horses, and oxen like oxen, and make their bodies in the image of their several kinds. (Fragment 15)

The Ethiopians make their gods black and snub-nosed; the Thracians say theirs have blue eyes and red hair. (Fragment 16)

One god, the greatest among gods and men, neither in form like unto mortals nor in thought. (Fragment 23)

He sees all over, thinks all over, and hears all over (Fragment 24)

Pada fragment 14, 15 dan 16, Xenophanes mengatakan bahwa (fragment 14) orang-orang penyembah dewa dewi itu selalu menyamakan kehidupan dewa dewi dari cara berpakaian, melahirkan dan memiliki anak, bahkan bentuknya pun sama seperti manusia. Jika seperti itu (fragment 15), seandainya binatang seperti kuda atau singa mampu melakukan pemikiran seperti halnya manusia, mungkin dewa dewi mereka akan sama seperti binatang. Bisa dibuktikan bahwa (fragment 16) orang Etiopia membuat dewa dewi mereka hitam dan orang Thracia membuat dewa dewi mereka memiliki mata biru dan rambut merah.

Hal itu membuktikan bahwa ini sebuah kesalahan dan tidak mungkin tuhan sama dengan apa yang diciptakannya.

Maka dari itu Xenophanes berpendapat bahwa (Fragment 23) sebenarnya hanya ada satu hal yang meliputi segalanya. Diantara dewa dewi (tuhan), ada tuhan yang lebih besar yang meliputi segalanya. Tuhan terbesar tidak serupa dengan makhluk lain dan tidak bisa dibayangkan (dipikirkan). Ia tidak dilahirkan dan juga bersifat kekal. (fragment 24) Dia melihat, berpikir dan mendengar segalanya.

Pemikiran tentang alam semesta

All things come from the earth, and in earth all things end (Fragment 27)

The sea is the source of water and the source of wind; for neither in the clouds (would there be any blasts of wind blowing forth) from within without the mighty sea, nor rivers’ streams nor rain-water from the sky. The mighty sea is father of clouds and of winds and of rivers. (Fragment 30)

She that they call Iris is a cloud likewise, purple, scarlet and green to behold. (Fragment 32)

For we all are born of earth and water. (Fragment 33)

Xenophanes berpendapat bahwa (Fragment 33) manusia dan alam semesta lahir dari bumi dan air. (Fragment 27) Segala sesuatu yang berasal dari bumi akan berakhir dibumi juga. (Fragment 30) Laut adalah sumber air dan angin. Samudra menghasilkan, awan, angin dan sungai.  (Fragment 32) Pelangi dipandang sebagai angin yang berwarna warni.

Sumber lain mengatakan bahwa matahari itu bergerak lurus sampai menghilang, lalu pada pagi hari terbit matahari baru. Bintang-bintang merupakan api yang bersinar dimalam hari. Menurut Xenophanes, tanah menjadi lumpur, lalu menjadi air laut; dan air laut bisa kembali menjadi lumpur lalu menjadi tanah termasuk batuan. kaya es aja. Hal ini dibuktikannya dengan mengamati fosil kerang laut yang berada didalam batuan.

Penutup

Walaupun pemikiran mereka berbeda-beda, namun hanya satu tujuannya; yakni mengkritisi pemikiran takhayyul dan mitos yang berlaku dimasyarakat pada zaman mereka.

Nantikan pembahasan kedua tentang tokoh pemikir dari yunani dipostingan selanjutnya. see you…

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Thales’s_theorem
https://www.kompasiana.com/lilalilo/5db4175d097f362c8670eb82/tokoh-serta-pemikiran-filsafat-yunani?page=all
https://www.kompasiana.com/fasyaasmarakamila/5db4197e097f36419c1c4d23/kelompok-5-tokoh-dan-karakterristik-serta-pemikiran-filsafat-yunani?page=all
http://gentongedukasi.blogspot.com/2012/01/tokoh-tokoh-pemikir-dalam-filsafat.html?m=1
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/filsafat-anaximandros/
https://id.wikipedia.org/wiki/Anaximandros
https://id.wikipedia.org/wiki/Anaximenes
https://zenosphere.wordpress.com/2015/06/16/xenophanes-pemikir-bebas-dari-colophon/
https://en.wikisource.org/wiki/Fragments_of_Xenophanes